PEKANBARU – Hasniati, warga Kulim bersyukur mendapatkan seragam gratis dari Pemerintah Kota (Pemko) untuk anaknya yang kini duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 27.
Sebelum mendapatkan seragam gratis, Felicia, putri Hasniati memakai seragam bekas yang ia beli dengan harga Rp200.000. Sebab, biaya untuk membeli seragam baru cukup mahal. Sementara sehari-hari ia mengais rezeki dengan menjual lontong.
“Biasanya, saya mengeluarkan uang sekitar Rp200.000 untuk membeli seragam anak yang baru masuk sekolah. Sementara itu, untuk anak yang duduk di kelas 3, biayanya mencapai Rp1.800.000,” kata Hasniati di sela-sela pembagian seragam gratis oleh Pemko Pekanbaru di SMP Negeri 6, Kamis (29/10/2026).
Ia mengaku bersyukur, dengan adanya program seragam gratis, sangat meringankan biaya pendidikan untuk anaknya. Program ini, kata Hasniati naru oertama kali ia rasakan.
“Sehari-hari, saya bekerja berjualan lontong untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saya senang sekali dan bersyukur karena mendapatkan bantuan baju seragam sekolah untuk anak. Ini baru pertama kali saya mendapatkan bantuan seragam,” ucapnya.
Program seragam gratis inindisiapkan untuk 20.800 peserta didik tingkat sekolah dasar (SD) dan SMP Negeri. Tingkat SD, Pemko menyiapkan untuk 9.800 siswa dan tingkat SMP untuk 11.000 siswa.
Walikota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan, total anggaran yang dialokasikan untuk pembelian seragam sekolah ini hampir Rp13 miliar. Ia menyebut, ini bukan bantuan, melainkan hak anak-anak sekolah untuk mendapatkan baju gratis.
“Ada tiga jenis baju seragam yang diberikan sehingga orang tua tidak perlu lagi membeli seragam sekolah tersebut,” jelas Agung.
Program seragam gratis ini menjadi sejarah bagi Kota Pekanbaru. Setelah puluhan tahun berdiri, baru kali ini Pemko bisa membuat program pembelian baju seragam gratis untuk seluruh anak sekolah SD dan SMP.
“Alhamdulillah, program ini bisa terlaksana pada masa kami. Selain itu, tadi kita juga menyerahkan bantuan tahap pertama bagi anak-anak yang ijazahnya masih tertahan, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Sumpah Pemuda,” jelasnya.
Totalnya ada sekitar 640 anak yang ijazahnya tertahan. Pada tahap pertama, ada sekitar 60 anak yang sudah diselesaikan, dengan nilai tunggakan mulai dari Rp6 juta, Rp7 juta, hingga Rp15 juta.
“Kita juga mengucapkan terima kasih kepada Baznas dan kepala sekolah swasta yang telah memberikan diskon. Ada yang memberikan diskon untuk tunggakan selama satu tahun, lima tahun, bahkan tujuh tahun. Mudah-mudahan anak-anak yang sudah mendapatkan ijazahnya semakin semangat bersekolah dan bisa meraih cita-cita setinggi langit,” harapnya.
Selain program itu, Pemko juga ingin memastikan kesejahteraan guru. Pemko berkomitmen agar Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) guru dibayarkan sebelum tanggal 10 setiap bulannya. Kata Agung, hal ini memang membutuhkan kerja ekstra dan harus didorong secara bertahap.
“Insyaallah, nantinya pembayaran tersebut bisa menjadi sebuah kebiasaan. Selain itu, kita juga menyerahkan sebanyak 1.500 bantuan untuk anak-anak sekolah dari kelompok afirmasi berupa perlengkapan sekolah, seperti tas, buku, dan kebutuhan lainnya. Begitu juga dengan orang tua yang kurang mampu, mereka diberikan bantuan uang tunai dari Baznas yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Pekanbaru,” paparnya. **
![]()
