SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perangi Angka Kematian Ibu dan Bayi, IBI Bangka Belitung Gencarkan Pemberdayaan Perempuan hingga ke Pelosok Desa

Oleh Ferdi Putra - Reporter
4 Menit Membaca
Nurita Ketua IBI Babel saat menjadi narasumber di RRI Pro 1 Sungailiat (Dok : RRI co id)

SUNGAILIATIkatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pilar kesehatan keluarga. Memasuki tahun 2026, organisasi profesi ini semakin mengintensifkan berbagai program pemberdayaan perempuan sebagai langkah konkret untuk menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di wilayah tersebut.

Upaya ini bukan tanpa alasan. Peran seorang ibu dalam tatanan keluarga merupakan kunci utama keberhasilan pola asuh dan kesehatan anak. Terlebih, di era modern ini, dinamika peran perempuan yang juga berkontribusi di sektor publik menuntut adanya edukasi kesehatan yang lebih adaptif dan merata.

Ketua IBI Provinsi Bangka Belitung, Nurita, mengungkapkan bahwa pihaknya telah bergerak cepat sejak awal tahun. Fokus sosialisasi kesehatan ibu dan anak telah menjangkau lima titik krusial di wilayah tersebut, yakni Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan, hingga Kota Pangkalpinang dan Sungailiat.

“Pada triwulan pertama ini kami fokus ke lima kabupaten/kota tersebut. Kami melihat peran ibu sangat penting dalam pola asuh anak, apalagi sekarang banyak ibu yang juga bekerja di luar rumah,” ujar Nurita dalam sesi dialog interaktif Pengarusutamaan Gender di Pro 1 RRI Sungailiat seperti dilansir dari https://ikatanbidanindonesia.id, baru-baru ini.

Tak berhenti di situ, Nurita memastikan bahwa jangkauan sosialisasi akan diperluas ke wilayah kepulauan lainnya. Kabupaten Belitung dan Belitung Timur telah masuk dalam radar agenda IBI Babel yang dijadwalkan pada awal April 2026 mendatang.

Dari Posyandu hingga Dunia Usaha

Dalam pelaksanaannya, IBI Babel tidak bergerak sendiri. Metode edukasi dilakukan secara terintegrasi melalui berbagai lini layanan kesehatan, mulai dari penyuluhan di Posyandu, Puskesmas, kunjungan langsung ke rumah warga, praktik bidan mandiri, hingga di rumah sakit.

Langkah inovatif juga diambil dengan mulai melibatkan dunia usaha. Hal ini dilakukan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung ibu bekerja agar tetap bisa memperhatikan kesehatan kehamilan dan tumbuh kembang anak secara optimal. Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat sumber daya dan jangkauan program kesehatan ibu dan anak di seluruh pelosok Negeri Serumpun Sebalai.

Kurangnya Dukungan Keluarga

Nurita memaparkan bahwa berdasarkan data lapangan, penyebab utama AKI di Bangka Belitung masih didominasi oleh kasus pendarahan dan anemia. Masalah kesehatan ini sering kali dipicu oleh faktor-faktor yang sebenarnya bisa dicegah jika kesadaran masyarakat meningkat.

“Kurangnya pemeriksaan kehamilan secara rutin menjadi celah terjadinya risiko. Minimal, pemeriksaan kehamilan harus dilakukan sebanyak enam kali,” tegas Nurita.

Selain faktor medis, Nurita menyoroti masalah sosial yang masih menjadi kendala besar, yakni keterlambatan dalam merujuk pasien ke fasilitas kesehatan, kondisi gizi buruk, serta minimnya dukungan dari lingkungan keluarga. “Dukungan suami sangat krusial. Kehadiran dan kepedulian suami dalam mengawal proses kehamilan istri adalah faktor penting dalam keselamatan ibu dan bayi,” tambahnya.

Menanggapi pertanyaan dari masyarakat terkait langkah nyata ke depan, Nurita menegaskan bahwa IBI Babel akan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan pemanfaatan program BPJS Kesehatan. Selain itu, sinkronisasi dengan program nasional seperti pemberian makanan bergizi gratis juga menjadi prioritas.

“Harapan kami, pada tahun 2026 ini cakupan layanan kesehatan semakin merata di seluruh kabupaten/kota. Dengan meningkatnya kesadaran keluarga dan dukungan dari semua pihak, kami optimis angka kematian ibu serta bayi di Bangka Belitung dapat terus menurun secara signifikan,” pungkasnya.

Melalui langkah-langkah strategis ini, IBI Bangka Belitung berharap dapat mewujudkan generasi masa depan yang lebih sehat dan tangguh, dimulai dari jaminan kesehatan para ibu yang merupakan fondasi utama peradaban. (*rls)

Bagikan Berita Ini
Tidak ada komentar