SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rohul Tata Pujasera Jadi Pusat Kuliner dan Destinasi Wisata

Oleh Ferdi Putra - Reporter
6 Menit Membaca

ROKAN HULU — Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu kembali memusatkan perhatian pada salah satu ruang publik yang selama ini menjadi denyut aktivitas masyarakat di Pasir Pengaraian. Komplek pujasera, yang berada di tepian Sungai Batang Lubuh, ditinjau langsung oleh Bupati Rokan Hulu Anton, ST., MM., pada Rabu (25/6/2025).

Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ditemani sejumlah pejabat strategis mulai dari Plt. Kepala Dinas Perkim, Kadis PUPR H. Zulfikri, Ketua KONI Rohul terpilih Novliwanda Ade Putra ST, M.Si., Kepala BPR Rohul, Kadis Perhubungan Minarli Ismail, SP, hingga beberapa pejabat lainnya, Anton ingin memastikan bahwa kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat kuliner itu benar-benar siap menjadi wajah baru Rokan Hulu.

Bagi masyarakat Pasir Pengaraian dan sekitarnya, pujasera bukanlah nama asing. Kawasan ini telah lama menjadi lokasi favorit untuk bersantai, mencicipi makanan lokal, dan menikmati suasana tepi sungai yang tenang. Namun seiring waktu, beberapa fasilitas mulai menurun, aktivitas pedagang tidak lagi tertata rapi, dan daya tarik kawasan ini perlahan meredup.

74542163312 ilustrasi batang lubuh

Anton menyadari betul kondisi tersebut. Karena itu, dalam kunjungannya ia menegaskan bahwa pujasera memiliki potensi luar biasa jika ditata kembali secara serius.

“Pujasera punya potensi yang sangat besar menjadi pusat kuliner Rokan Hulu dan menjadi wajah Rokan Hulu karena lokasinya yang strategis,” kata Anton saat meninjau area tersebut.

Letak pujasera memang cukup unik. Berada di tepian Batang Lubuh, kawasan ini menghadirkan perpaduan antara kuliner dan panorama sungai yang memukau. Dengan pengelolaan yang tepat, pujasera bukan hanya bisa menjadi pusat kuliner, tetapi juga destinasi wisata yang memantik ekonomi lokal.

Dalam kesempatan itu, Anton memberikan instruksi tegas kepada dinas terkait untuk melakukan penataan menyeluruh. Ia menekankan bahwa pembenahan tidak boleh setengah-setengah, karena tujuan akhir dari revitalisasi ini adalah menghidupkan kembali kawasan tersebut agar kembali menjadi ruang publik yang menyenangkan dan nyaman.

Ada beberapa poin utama yang disampaikannya.

Pertama, penataan tempat pedagang. Selama ini, sebagian pedagang beraktivitas tanpa pola yang jelas, sehingga membuat pengunjung kesulitan mengenali zona kuliner yang tertata. Dengan penataan yang baik, selain meningkatkan estetika kawasan, pedagang pun mendapat ruang usaha yang lebih nyaman dan layak.

Kedua, perbaikan lampu taman. Penerangan adalah salah satu elemen penting dalam ruang publik, terutama mengingat aktivitas kuliner biasanya ramai pada sore hingga malam hari. Lampu yang redup atau mati bukan hanya mengurangi keindahan, tetapi juga memengaruhi rasa aman pengunjung.

Ketiga, pengaktifan kembali gerbang masuk pujasera. Gerbang ini bukan hanya akses fisik, tetapi juga simbol identitas kawasan. Dengan menghidupkan kembali gerbang tersebut, pemerintah ingin menghadirkan kesan yang lebih teratur, lebih bersih, dan lebih profesional kepada masyarakat maupun wisatawan yang datang.

Keempat, penyediaan area parkir yang layak. Ini adalah aspek vital lain yang selama ini kerap menjadi keluhan pengunjung. Tanpa area parkir yang tertata, pengunjung sering memarkirkan kendaraan di area yang tidak seharusnya, sehingga menimbulkan kemacetan dan mengurangi kenyamanan.

Instruksi ini disampaikan secara langsung, memastikan setiap dinas memahami peran dan tugasnya masing-masing agar revitalisasi pujasera dapat berjalan efektif.

Dalam kunjungannya, Anton juga menyampaikan harapan besarnya terhadap perkembangan pujasera setelah proses penataan berlangsung.

“Saya berharap dengan penataan ini, pujasera kembali terlihat indah dan ramai dikunjungi, baik itu oleh masyarakat sekitar maupun wisatawan dari luar daerah,” ujarnya.

Harapan ini beralasan. Ruang publik yang tertata baik biasanya menjadi pusat aktivitas sosial. Jika masyarakat merasa nyaman, mereka akan lebih sering datang. Begitu pula dengan wisatawan yang berkunjung ke Rokan Hulu. Sebuah kawasan kuliner yang menarik akan menjadi destinasi tambahan yang meningkatkan pengalaman mereka.

Selain itu, kebangkitan pujasera kiranya juga memberi dampak ekonomi yang signifikan. Pedagang kuliner akan mendapatkan lebih banyak pelanggan, baik dari masyarakat lokal maupun tamu dari daerah lain. Efek dominonya pun besar. Pendapatan daerah berpotensi meningkat, lapangan kerja terbuka, aktivitas ekonomi sekitar bergeliat, dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat ikut terdorong.

Penataan pujasera menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mengembangkan ruang publik yang lebih representatif di Rokan Hulu. Sejalan dengan tren berbagai kota di Indonesia, ruang publik yang tertata kini menjadi kebutuhan, bukan lagi pelengkap. Pemerintah melihatnya sebagai ruang interaksi sosial, ruang bagi UMKM berkembang, dan ruang bagi masyarakat untuk beristirahat dari rutinitas harian.

Melihat kondisi geografis Rokan Hulu yang dipenuhi potensi alam, revitalisasi ruang publik berbasis panorama alam seperti pujasera menjadi strategi yang tepat. Dengan kombinasi antara kuliner, budaya lokal, dan suasana tepi sungai, kawasan ini dapat berkembang menjadi destinasi unggulan.

Peninjauan Bupati Anton bersama jajaran pejabatnya menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak ingin sekadar merencanakan, tetapi benar-benar mengimplementasikan perbaikan. Langkah ini diharapkan menjadi awal dari transformasi lebih besar dalam pengelolaan ruang publik di Rokan Hulu. (*adv/Diskominfo Rohul)

Bagikan Berita Ini